Berita terbaru Podomoro Park Bandung  BACK TO TIPS

Berburu Takjil Enak di Bandung

Ramadhan adalah bulan penuh hikmah dan dinantikan kehadirannya oleh umat muslim di seluruh dunia. Setiap bangsa pasti memiliki tradisi sendiri dalam menjalankan ibadah puasanya, termasuk di Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Tradisi berpuasa di Indonesia itu sangat unik. Menjelang saur, biasanya beberapa remaja berkeliling kampung membunyikan aneka benda yang bisa membangunkan orang tidur. Ada yang menggunakan kentongan atau bedug, tetapi ada juga yang menggunakan alat musik.

Kalau di Jakarta yang penduduk aslinya orang Betawi, ada tradisi Ngarak Beduk atau Beduk Saur. Biasanya beberapa warga kampung, baik orang tua, pemuda, maupun anak-anak, bergerombol berjalan kaki sambil mengarak beduk sambil membunyikannya dengan keras. Tujuannya agar masyarakat yang ada di sekitar segera bangun untuk persiapan makan sahur.

Beda lagi kalau di Yogyakarta. Ada tradisi yang disebut klotekan, yaitu membangunkan sahur yang dilakukan oleh sekelompok pemuda kampung dengan cara berjalan kaki keliling kota. Mereka mengunakan alat musik modern, seperti satu set drum yang ditata rapi di atas sebuah gerobak. Lalu gerobak tersebut diikatkan ke sepeda agar mudah menariknya. Sambil berjalan, drum tersebut ditabuh dengan keras agar warga yang rumahnya dilewati segera terbangun dan segera bersiap makan sahur.

Bagaimana kalau saat buka puasa? Apakah ada tradisi khusus? Tentu saja ada. Ada tradisi yang kita kenal dengan istilah ngabuburit. Tradisi ini biasanya dilakukan pada sore menjelang buka puasa dengan cara berkeliling kampung atau kota sambil membawa kendaraan. Tujuannya tidak lain sekadar mengisi waktu luang sambil menunggu saatnya azan berkumandang yang menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.

Saat waktu berbuka puasa, semua anggota keluarga akan menyerbu santapan yang sudah disediakan. Selain minuman berupa air bening atau teh manis, mereka juga akan menyantap takjil. Biasanya berupa makanan yang manis-manis seperti misalnya buah kurma. Namun, setiap daerah juga memiliki makanan khasnya sendiri-sendiri yang biasa dikonsumsi saat berbuka puasa. Salah satu contohnya adalah Kota Bandung.

Ilustrasi: Berbuka puasa bersama (Sumber: today.line.me)

Selama ini Kota Bandung dikenal sebagai surganya kuliner di Indonesia. Tidak heran banyak wisatawan yang berkunjung ke kota ini hanya karena mereka ingin mencicipi aneka makanannya yang khas, unik, dan lezat. Bagaimana dengan takjil? Apakah ada takjilwi yang unik dan enak di kota yang dijuluki Paris van Java? Tentu saja ada. Bahkan banyak sekali. Yuk kita simak ulasannya.

Berikut ini akan kita ulas enam jenis makanan lezat yang sering digunakan masyarakat Bandung sebagai takjil untuk berbuka puasa.

Pertama, surabi atau serabi. Kuliner khas Bandung yang satu ini termasuk makanan tradisionil yang sudah ada sejak dulu kala. Surabi ini mirip seperti sejenis pancake yang berasal dari Belanda, tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Jika pancake dibuat dengan menggunakan tepung dan telur maka adonan serabi dibuat dengan menggunakan tepung terigu, tepung beras, dan santan kelapa.

Ada dua pilihan rasa surabi yang umumnya dijual dipinggir jalan yaitu surabi manis dan surabi asin. Keduanya termasuk jenis surabi original. Kalau surabi manis biasanya dikonsumsi bersama kinca atau gula merah cair. Caranya dengan mencocolkan surabi ke cairan gula tersebut, lalu menyantapnya. Kedua, serabi asin yang ada taburan oncom di atasnya.

Ilustrasi: Surabi dengan varian rasa berbeda (Sumber: cookpad.com)

Zaman sekarang varian surabi sudah berkembang mengikuti perkembangan zaman. Selain ada surabi original seperti dijelaskan di atas, ada juga varian surabi hasil inovasi para pebisnis kuliner, seperti surabi keju, surabi coklat, surabi telor, dan lain-lain.

Kedua, seblak. Makanan sejenis ini sebenarnya sudah ada di daerah Cianjur bagian Selatan sejak dulu sebelum Indonesia merdeka. Namun, seblak baru populer di Kota Bandung sejak 2000-an yang disukai oleh anak-anak muda, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Reputasinya pun langsung melejit, menyusul jenis makanan lain yang sudah lebih dulu dikenal. 

Ilustrasi: Seblak kuah pedas siap saji (kompas.com)

Seblak terbuat dari dari bahan dasar berupa kerupuk oren yang dimasak dengan campuran sayuran, telur, ayam, boga bahari atau olahan daging sapi. Bahan tersebut lalu dimasak dengan air disertai bumbu racikan yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, garam, kencur, cabai rawit, dan penyedap rasa. Makanan yang bertekstur kenyal ini memiliki rasa yang gurih, pedas, dan menyegarkan.

Ketiga, colenak. Kuliner khas Bandung yang satu ini ternyata punya sejarah tersendiri. Dulu ada penjual peuyeum atau tape bakar bernama Murdi menjual makanan ini di pinggir Jalan Ahmad Yani (Cicadas) No 733, Kota Bandung, Jawa Barat. Uniknya, mengonsumsinya dengan cara dicocol ke kuah yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah.

Saat itu makanan ini belum punya nama. Lalu para pelanggan menyarankan agar Murdi memberinya nama “colenak”. Mengapa? Karena cara makan tape bakar ini dengan dicocol pakai gula merah sehingga rasanya enak. Oleh sebab itulah namanya jadi colenak atau singkatan dari dicocol enak”.

Colenak Murdi termasuk salah satu produk kuliner paling tua di Kota Bandung. Kini tersedia tiga varian rasa colenak yaitu colenak original, colenak aroma durian, dan colenak nangka. 

Ilustrasi: Colenak sedap siap saji (nusadaily.com)

Keempat, cimol. Sama seperti colenak, asal nama makanan yang sering dijadikan takjil ini berasal dari bahasa Sunda yaitu “aci digemol” yang artinya tepung kanji dibuat bulat-bulat. Cimol dibuat dari adonan tepung kanji yang dibuat bulat-bulat, kemudian digoreng.

Biasanya, cimol dimakan dengan bumbu-bumbu tambahan (istilahnya semacam seasoning). Kalau digigit, rasanya memang agak kenyal-kenyal. Paling enak jika dimakan hangat-hangat. Cimol biasanya dimakan dengan menggunakan tusukan yang terbuat dari bahan kayu atau bambu.

Ilustrasi: Cimol bumbu goreng (doyanresep.com)

Kelima, candil. Candil termasuk makanan wajib bagi oran Bandung yang sedang berbuka puasa. Makanan ini mirip kolak yang hampir selalu ada dan dikonsumsi banyak orang.

Candil ini terbuat dari campuran tepung beras ketan dan air yang dibuat bulatan seperti bola-bola, lalu direbus dalam adonaan bubur tepung beras dan gula merah. Kemudian ditambahkan santan kental sebagai pelengkapnya.

Ilustrasi: candil siap saji (Sumber: travel.kompas.com)

Kandungan gulanya dapat memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa. Tidak hanya itu, candil yang berbahan dasar beras ketan ini juga bisa mengganjal perut yang kosong sebelum menyantap menu yang lebih berat lagi sehingga lambung tidak kaget.

Keenam, kolak. Sama seperti candil, kuliner yang satu ini termasuk juga makanan wajib bagi siapa saja orang yang sedang berbuka puasa. Ada dua jenis kolak yang biasa dikonsumsi orang Bandung sebagai takjil yaitu kolak pisang dan kolak ubi.  Makanan ini terbuat dari bahan dasar pisang. Biasanya menggunakan pisang kepok atau pisang tanduk yang sudah tua atau masak sedangkan ubi yang digunakan adalah uji jalar.

Ilustrasi: Kolak santan siap saji (Sumber: organiccoconutpalmsugar.com)

Bahan campuran lainnya adalah gula merah, santan, daun pandan, kelapa tua, garam, gula pasir, air dan tepung maizena. Selain dibuat terpisah, kadang bahan dasar pisang dan ubi ini juga disatukan sehingga menjadi kolak pisang dan ubi.

Oleh: J.Haryadi